|
|
MENUJU
PEMIKIRAN BARU
Kehidupan merupakan serangkaian bentuk rekayasa Sang Khaliq kepada manusia. Dengan adanya kehidupan ini maka manusia akan senantiasa dituntut untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat baik bagi dirinya maupun bagi kehidupan manusia pada umumnya. Kehidupan manusia selalu berjalan dan berkembang seiring dan sesuai dengan perputaran waktu. Mulai kita masih kecil sampai kita dewasa, mulai dari tidak tahu menjadi pintar, mulai dari merangkak menjadi berjalan dan pada akhirnya berlari, dan seterusnya. Pada titik point inilah maka manusia dituntut untuk berlomba dan berkreatifitas siapa diantara mereka yang dapat menjadi paling dewasa, siapa yang paling pintar, siapa yang paling cepat melangkah, dan seterusnya yang pada hakekatnya akan banyak ditentukan oleh seberapa jauh tingkat harapan dan usaha yang dilakukan oleh manusia itu sendiri. Waktu dalam sebuah kehidupan merupakan kunci keberhasilan manusia. Barang siapa yang dapat menjaga dan mengatur waktu sebaik mungkin maka akan semakin besar kemungkinan manusia itu untuk meraih keberhasilan. Namun manakala semakin banyak waktu yang terbuang dengan percuma dan hanya diisi dengan angan-angan hampa maka akan semakin besar pulalah kemungkinan bahwa orang tersebut akan tersingkir dari persaingan kehidupan yang sangat ketat. Akan tetapi, ada satu hal yang tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita setahun lagi ? Akan jadi apa kita satu bulan lagi. Tak pernah ada yang tahu. Jangankan seminggu ke depan, esok hari pun kita tidak akan pernah bisa menjawab. Kala kita masih kanak-kanak sangat mudah bagi kita untuk menyebut cita-cita bahkan tak jarang ada anak-anak yang “mengubah” cita-citanya hanya dalam hitungan menit. Tapi ketika kita beranjak dewasa maka kita akan dipaksa untuk lebih bersikap realistis. Sementara di sisi lain kita juga masih mempunyai impian dan harapan tentang hidup di masa datang. Ini tidak jarang membuat orang menjadi bingung, stress dan bahkan depresi. Apa yang harus dilakukan untuk mencegah stress dan rasa putus asa itu datang, sementara kita tetap bisa memelihara impian masa depan ? Tidak ada kata terlambat bila kita mau untuk kembali mengenali diri kita termasuk segala kemampuan dan kekurangan yang kita miliki. Di dalam sebuah kehidupan, hanya ada dua cara yang bisa membuat kita gagal dan tersingkir. Pertama adalah “tidak pernah mencoba” dan yang kedua “berhenti berusaha”. Kalau tidak, maka kita tidak akan gagal. Barangkali apa yang kita alami tidak seperti yang kita harapkan, tapi kita harus selalu bertanya pada diri sendiri bahwa “Apa yang saya lakukan sudah benar, sehingga saya dapat meneruskannya lebih lanjut ? misalnya, mengapa perusahaan masih tetap mempekerjakan saya ?” Perhatikan bagaimana Thomas Alfa Edison berhasil menemukan lampu listrik. Keberhasilannya bukan cuma berlangsung sebentar saja. Dia harus mencari filamen yang cukup tahan lama sebelum siap untuk dipasarkan. Selama usahanya, setelah mencoba ribuan kali, ada orang bertanya kepadanya, “Tuan Edison, Anda telah gagal berulang-ulang. Apa Anda tidak berkecil hati ?” Edison menjawab, “Tidak, saya tidak berkecil hati, karena saya tidak pernah gagal ribuan kali. Saya berhasil menemukan ribuan cara yang tidak bisa berhasil.” Ketimbang berkecil hati Thomas Edison selalu bertanya pada dirinya sendiri, “apa yang saya lakukan sudah benar, sehingga filamen ini dapat bertahan lama? Mengapa filamen ini hanya bisa bertahan tiga menit saja, dan mengapa yang ini bisa tahan hingga sembilan menit? Lain kali, bagaimana cara membuatnya agar bisa bertahan sampai duabelas menit? Kini, karena sikap Thomas Edison dalam menghadapi kegagalan, kita mempunyai lampu listrik. Kita masing-masing perlu mengenal sikap kita terhadap berbagai kesulitan. Bila dunia di sekitar kita tidak seperti yang kita harapkan, lalu apa yang akan kita pikirkan? Pikiran kita secara langsung akan menentukan bagaimana perasaan kita. Jika kita berpikiran negatif sewaktu mengalami kesulitan, maka kita akan sering merasakan kepedihan. Namun apabila kita selalu berpikiran positif dalam segala kondisi di manapun kita berada maka pikiran kita tidak akan menjadi sempit, bahkan akan semakin menambah daya kreatifitas dan objektifitas kita dalam melakukan sesuatu. Referensi : 1. The courage to fail, Art Mortel; 2. Koran Tempo, edisi 14 Mei 2001.
Sekretariat POTENSI: Jl. Malaka Selatan, Blok K 5 No: 8 Pondok Kelapa (13450), Duren Sawit, Jakarta Timur. Telp. 0811811140, 0811927342, 08129944858. Fax. 021- E-mail : Potensi@mail.com Homepage: www.potensi.4t.com © Mei 2001 TDT
|